Dua kata itu akan terus berkutat dalam otak Melati yang semakin lama terasa penuh dengan banyak pertanyaan yang sampai saat ini belum ia temukan jawabannya. Selalu dan Masih atau Selalu karna Masih atau Masih karna selalu ? Dua kata itu hampir membuat Melati hilang akal sehat karna perasaannya lebih kuat daripada logikanya. Selalu dan masih saja wanita terkendalikan dengan perasaannya sampai-sampai logika seolah olah mati dan tak berfungsi, apa karna Melati wanita dan wanita memang selalu dan masih saja begitu ? Logikanya seperti gubuk yang terpagari tembok tinggi,tembok yang terbuat dari tatakan bata yang kuat dengan semen sebagai pengikatnya, kuat ! sangat kuat bahkan hanya akan terhancurkan dengan bulldozer, tapi ternyata yang ada di dalam tembok itu hanyalah gubuk ! Gubuk yang kecil, mungil, yang sewaktu-waktu bisa saja ambruk karna tersapu topan atau lesus. Itulah kamu saat ini Melati, dia dan cintamu sudah membutakanmu, menutup logikamu dengan kenikmatan yang sebenarnya itu semu, padahal belum tentu ada arti hadirmu dihidupnya walaupun itu hanya sedetik saja,,Wanita memang selalu saja begitu, begitu mudah terbuai dengan janji-janji, mudah percaya dengan apapun yang keluar dari bibir-bibir yang mungkin saja “ lain di mulut lain di hati”, mudah melihat yang buruk seolah-olah sempurna tanpa cacat, mudah terbawa suasana padahal hanya dengan lilin dan cahaya remang, seuntai mawar dan lirih suara lagu roman, hati yang tadinya membeku seperti es dapat langsung mencair seketika hanya karna itu tadi, ya itulah wanita
“ itulah kamu Melati, itulah kamu yang dulu terlihat sebagai wanita kuat mampu rapuh dan jatuh berulangkali hanya karna “perasaanmu yang mematikan logikamu” Bukankah ini bukan yang pertama kalinya bagimu ? Bertemu, mengenali dan mengisi kanvas-kanvas putihmu dengan goresan-goresan kuas yang mengering dan tidak memunculkan warna-warna pelangi ? Apa yang sebenarnya ingin kamu tumpahkan di kanvas itu ?
Melati hanya menggelengkan kepala, diam dan tak ada kata, selalu dan masih saja seperti itu !Melati sebagai wanita hanya mampu menggeleng ketika dia tak ingin melepaskan apa yang seharusnya ia lepas, membuang apa yang seharusnya ia buang, bukan malah menelan yang pahit karna lidahnya pun sudah tak mampu merasakan yang manis,, Selalu dan masih saja begitu, wanita pura-pura kuat. Memaksakan dirinya untuk bertahan dengan sesuatu sebenarnya belum ia ketahui,
“jangan sok tahu, Melati ! Kamu bukan Tuhan ! Jangan mendiktikan agar dia kelak menjadi bapak untuk anak-anakmu ! “saat ini dia memang bersamamu, tapi kamu tidak tahukan jika sehabis bercinta dengamu dia meniduri wanita yang ia kenal bertahun-tahun sebelum kamu?”
“sadar Melati ! Waktu terus berlari dan memburu mendahuluimu, dan kamu ?
“jangan bermain-main dengan waktu, karna suatu hari nanti kamu akan mengemis hanya untuk memperpanjang satu detik saja, kamu sudah membayar dengan usiamu yang terus berkurang hanya untuk sebuah kata “menunggu”
“Ini sudah yang ketiga kalinya bukan kamu berkutat dengan kata sialan itu ! Aku saja masih ingat mengapa kamu pura-pura lupa ? Yang lalu memang tak sedalam ini, tapi yang ini sudah membuatmu melewati beberapa hati yang mencoba ingin mengenali hidup dan hatimu,
selalu dan masih saja begitu, sepertinya tak ada kata bosan dengan menunggu dalam kamus hidupmu, Melati ! atau memang kamu yang sebenarnya belum mengerti apa itu arti dari “menunggu “
Bohong ! jika kamu belum mengerti, kedua matamu yang sayu itu tak mampu membohongiku, Mungkin mulutmu berkata tidak, tapi tatapan mata ? tak ada yang mampu disembunyikan dari tatapan mata ! Apa kamu tak sadar, jika air mata keluar itu berarti memang karna rasa sakit sebenarnya sudah tak mampu tertahan lagi !!!! Kamu sebenarnya tahu tapi kamu seperti “kura-kura dalam perahu” pura-pura tidak tahu dan pura-pura tidak mau tahu..
Selalu dan masih saja terus seperti itu, Melati sebagai wanita lebih percaya dengan apa yang dikatakan hatinya ketimbang apa yang terlihat oleh matanya ! Matanya melihat fakta, kata hatinya hanya mampu merasa,
Merasakan perih dan luka ketika melihat apa itu yang nyata tapi…..
“Kamu tetap saja bertahan dengan dia, dia yang selama ini juga menunggu yang pasti dari lain hati “. Kamu menunggu dia, dan dia menunggu ia “ dia masih mengharapkan ia tapi dia juga member harap kepadamu, entah harapan itu isi atau kosong atau bahkan hanya fiktif.
“Hanya Tuhan dan dia yang kamu tunggu yang tahu”
Selalu saja dan masih saja terus seperti itu, Melati sebagai wanita mengijinkan diri dan hidupnya untuk tersakiti , untuk merasakan perih dan luka, untuk menutup hati dari kenyataan hanya karna perasaan, lagi dan lagi “blindside”
Wanita selalu mencoba untuk tegar, seluruh dunia pun tahu jika karang yang paling kuat di lautan pun akan habis terkikis oleh sapuan ombak.
Atau memang wanita itu selalu kuat dan masih tetap mampu kuat ?
“Kamu kuat karna kamu Melati, dan Melati kelak akan menjadi seorang ibu”!
Hanya ibu yang kuat Melati, kamu belum jadi seorang ibu ! Jangan belajar untuk pura-pura kuat dari sekarang , ini belum waktunya ! Jangan menjadi seperti pohon karbitan ! Atau bayi yang lahir prematur, Aku tahu kamu sudah tak mampu lagi dengan yang ini, Aku tahu karna aku juga wanita, Aku tahu kepulan asap rokokmu itu menunjukkan kelemahanmu, tapi kamu tak mampu mengatakannya, kamu hanya mampu diam ! Hanya karna perasaanmu, hanya karna dia yang kamu tunggu, hanya karna dia yang kini seolah-olah menjadi arah yang kamu tuju, hanya karna dia yang pernah membawamu ke lautan lepas, hanya karna dia dan pesan singkatnya yang beberapa bulan terakhir ini memenuhi inboxmu, hanya karna dia yang selalu berkunjung ke rumah setiap akhir pekanmu, hanya karna dia yang tak sengaja memberimu mawar, hanya karna dia yang pernah menjanjikanmu,
“itu cuma janji Melati, dan dia juga hanya Laki-laki, suatu hari nanti dia bisa saja berubah 370 derajat berbalik dari apa yang pernah ia janjikan kepadamu, meskipin lingkarang hanya 360 derajat
Tapi dia sebagai laki-laki terkadang memang begitu, absurd, unpredictable, dia bukan kamu Melati, dia tidak seperti aku dan kamu yang mudah terbaca perasaan dan hatinya,,,
selalu dan masih saja seperti itu, Melati selalu dan masih saja seperti itu
sampai kapan Melati ? Sebagai wanita seharusnya kamu tahu, bukan kamu yang berlari dan mengejar cinta, tapi sebaliknya,,
Sebagai wanita seharusnya kamu mampu memilih bukan kamu yang dijadikan pilihan hanya karna keadaan dan perasaamu yang saat ini sedang terbutakan,,
Sebagai wanita seharusnya kamu dapat terus berjalan lurus kedepan bukan malah berputar-putar dengan lingkaran yang tak ada ujungnya,,
Sebagai wanita seharusnya kamu mampu menjadi pemeran utama yang menentukan ending dari setiap cerita yang kamu buat, bukan malah menjadikan peran pembantu sebagai pembuat ending dari cerita yang kamu mulai,,
Sebagai wanita seharusnya kamu tak mampu menangis ketika yang datang itu ternyata pergi dan ini terlalu cepat,,
Sebagai wanita seharusnya kamu mampu mengucapkan “selamat tinggal” menjadi yang meninggalkan karna kesabaranmu sudah kalah dengan perihmu, bukan malah menjadi yang ditinggalkan hanya karna KARMA ,,
“”Melati,,melati,,
Kamu ini selalu dan masih saja seperti itu
“Menjadi ikan yang bodoh yang kena pancing dengan umpan yang sama
“Kamu pernah merasakan seperti yang ini sebelumnya, meskipun tidak mirip tapi toh sama saja, “kamu masih dan selalu saja berkutat dengan kata “menunggu”
“Kamu pernah merasakan seperti yang ini sebelumnya, meskipun tidak mirip tapi toh sama saja, “kamu masih dan selalu saja berkutat dengan kata “menunggu”
“Sampai kapan Melati ?
“Selalu dan masih..
Yogyakarta, 1 JULI 23:26 PM – it’s remind me about three years ago and now
Tidak ada komentar:
Posting Komentar