Senin, 05 Juli 2010

Percakapan dua mata

“bagaimana kabarmu saat ini Melati ?”
“kamu tanya kabarku ?”
seharusnya pertanyaan itu tak pantas keluar dari mulutmu tapi malah sebaliknya,
“apa kabar kamu sayang ? apa kamu baik-baik saja ?”
“kemana perginya kamu kemarin?”
“tak terasa sudah sewindu kamu tanpa kabar, sayang !”
“sayang ? kamu masih memanggilku dengan sebutan itu, Melati ? “
“iya lah, kenapa ? salah ?”
“aku hanya mencoba untuk tak berubah meskipun kamu pergi dan meninggalkanku bertahun-tahun”!
“aku hanya mencoba berdiam tegak di tempat meskipun kamu bergerak berlari menjauhiku”
“aku hanya mencoba untuk mampu mengingat yang lalu meskipun kamu kini beranjak ke masa depan”
“ini sudah sewindu ! sewindu itu bukan setahun, bukan sebulan, dan bahkan bukan sedetik”!
“anak kelas tiga SD saja juga tahu sewindu itu DELAPAN TAHUN !!!!!!
“delapan kali 356 hari, 356 hari kali 24 jam, dan seterusnya”……
“Kamu ini pura-pura tidak sadar, mati rasa, atau amnesia ?”
“sudah delapan tahun kamu pergi meninggalkanku, tanpa pamit, tanpa alasan, tanpa kenang-kenangan, tanpa janji, tanpa pesan, tanpa apapun dan kini kamu kembali lalu menanyakan kabarku ?
“bajingan kamu !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
“apa ? kamu tak terima aku samakan dengan bajingan ? “
“atau ada umpatan lain yang lebih pantas dari sekedar sebuah kata bajingan”
“delapan tahun aku hampir seperti orang tak waras !!!!”
“delapan tahun aku jari-jariku tak hentinya memencet nomor hpmu, menghubungi tapi apa yang aku dapat ? “ nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar area”
“anjing ! kambing ! kamu yang kusayang pergi diam-diam tanpa sepengetahuanku dan kini kamu datang kepadaku dan menayakan kabarku ? “
Melati marah, tatapan matanya merah dan basah , berkaca-kaca dengan ucapan kata-kata yang terbata-bata…
Laki-laki yang ia cintai minggat, tanpa alasan dan kini kembali seolah-olah ia pergi senin pagi dan pulang selasa senja
“maafkan aku Melati,, aku pergi bukan karna menghindari atau sengaja menjauhimu!”
“aku pergi karna aku tau sakit dan aku harus segera pulang dengan sehat untukmu”
“aku pergi bukan karna sudah tak ada lagi cinta dihati!”
“aku pergi karna aku tak ingin kamu menangis hanya karna benteng diantara kita terlalu tinggi dan kuat!”
“aku pergi untuk belajar Melati !”
“belajar untuk mampu menyebut apa yang kamu sembah dengan sebutan dan cara yang sama!”
“aku pergi untuk agamamu dan menjadikannya agamaku, agar kita mampu menjadi satu Melati!”
Melati diam, tersentak dan seketika bungkam….
Jantungnya tergetar dan terkoyak seperti butiran-butiran beras yang terayak dengan kencangnya
Hatinya seperti butiran kuning telur yang siap masuk ke dalam Teflon dengan minyak panas untuk di dadar, hancur ………………
“Brengsek kamu ! Kenapa kamu baru mengatakannya sekarang ?
“Ini cinta, ini waktu, bukan adegan tunggu menunggu seperti di sinetron !!!!
“Aku sudah bermain dengan hari-hari yang berjumlah sewindu”
“maafkan aku Melati ! Maaf…”
“jangan minta maaf ! karna memang tidak ada yang pantas dimaafkan !
“it’s too late, honey! “it’s too late to see you again then you said” will you marry me, Melati ?
“tarik kembali lagi gombalanmu tadi atau kutampar pipi kananmu !”
sewindu kamu tanpa kabar, sewindu aku tanpa kamu, sewindu hidupku ada yang ganjil karna kepergianmu, sewindu tak ada pesan di kotak masuk hpku dari nomormu, sewindu tak ada telfon berdering dari kontak yang kunamai dengan sebutan “jagoanku”, selama sewindu aku seperti tak mengenal istilah malam minggu karna kamu pergi, selama sewindu aku seperti gila karna dunia yang ku tuju seolah-olah
“tahi kucing kamu ! karna kepergianmu, jalan ceritaku berubah !!!
Melati berkata-kata masih dengan matanya yang merah dan basah,tapi ia terus bertanya,
“kamu baik-baik saja kan Melatiku sayang ?, “aku tahu kamu wanitaku yang setia”
“bagaimana bisa aku baik-baik saja jika di jari manis tangan kananku sudah melingkar sebuah cincin dari laki-laki lain ?”


2.07.2010 8:03 AM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar