ini sudah pagi, sudah semalaman saya menanti hanya untuk bertemu dengan pagi
pagi ! !
lagi dan lagi saya harus mencumbu pagi
menjalani rutinitas yang tak ingin melibatkan hati
ini hampir rapi, semua tersembunyi, diam diam samar samar menyembunyikan teka teki dari pagi hingga pagi lagi
seandainya tidak ada pagi, mungkin luka ini akan terobati
dengan atau tanpa pagi
malam yang lalu akan teringat sebagai sendu
selalu sendu haru dan ragu
sendiri, di dalam ruang gelap dan berasap
semalaman saya habiskan hanya untuk menanti pagi
Kamis, 12 Agustus 2010
Selasa, 10 Agustus 2010
Skenario part 2 *Saya juga makhluk Tuhan
Maaf jika saya abnormal dan tidak seperti kalian. Tapi ini bukan kehendak saya. Saya hanya berjalan sesuai alur cerita.
Saya memang terlahir sebagai seorang perempuan yang mungkin sedang beranjak menjadi wanita dewasa. Dan suatu hari nanti saya pasti akan menjadi wanita. Wanita dewasa dan calon ibu. Ibu yang memiliki surga di telapak kakinya. Dan saya ? Apa karna saya wanita, apakah mungkin ada surga di telapak kaki saya ?Jangan tanyakan masalah agama kepada saya, karna saya hanya akan tersenyum diam mengamati orang-orang menyebut nama Tuhan dengan nama dan cara-cara yang berbeda. Tapi Tuhan ? Tuhan tidak pernah mengkotak-kotakkan siapa, mereka yang menyebutnya. Semua adalah sama di mata-Nya !
Tapi kenapa kalian menganggap saya beda ?
Hanya karna saat ini saya tak bisa mencintai laki-laki ? Hanya karna saya serumah dengan seorang wanita sebaya saya yang bergaya maskulin dengan rambut cepak selama bertahun-tahun ?Tentang siapa dia, dan darimana dia, kalian tak perlu tau ! Cukup kalian tau bahwa selama ini dia adalah orang yang selalu ada dalam hidup saya setelah Tuhan dan ibu.
Berhentilah mencibir setiap kalian melihat kami saling menggandeng seperti remaja jatuh cinta.
Berhentilah menatapi kami dengan mata melotot dan mimik muka jijik.
Kami bukan bakteri, kami bukan sampah, kami bukan racun!!
Saya dan dia hanya wanita, sama-sama wanita seperti sebagian dari kalian.
Saya ini juga makhluk Tuhan, yang terlahir dari rahim suci Ibu saya.
Saya juga makan nasi, minum air putih, berpakaian dan waras. Lantas apalagi yang membuat anggapan kalian berbeda terhadap saya dan dia?
Jangan panggil aku Bi, namaku bukan Bi ! Itu bukan nama pemberian dari Tuhan !
Panggil saya dengan nama, bukan dengan sebutan yang kalian anggap jalang.
Ini memang terlarang, menantang dosa dan agama.
Tapi apakah saya salah ?
Saya hanya mencoba memupuk cinta pada tempatnya, kepada seseorang yang benar-benar cinta dan dicintai saya.
Tuhan saja yang menciptakan saya masih memberikan perpanjangan waktu kenapa kalian justru menghakimi dan seolah olah tau akan jalan hidup saya ?
Bukankah Tuhan menciptakan cinta ke dunia agar hidup pada tempatnya dan bahagia ?
Saat ini saya bahagia, benar benar bahagia. Lalu apalagi yang salah ?
Saya memang terlahir sebagai seorang perempuan yang mungkin sedang beranjak menjadi wanita dewasa. Dan suatu hari nanti saya pasti akan menjadi wanita. Wanita dewasa dan calon ibu. Ibu yang memiliki surga di telapak kakinya. Dan saya ? Apa karna saya wanita, apakah mungkin ada surga di telapak kaki saya ?Jangan tanyakan masalah agama kepada saya, karna saya hanya akan tersenyum diam mengamati orang-orang menyebut nama Tuhan dengan nama dan cara-cara yang berbeda. Tapi Tuhan ? Tuhan tidak pernah mengkotak-kotakkan siapa, mereka yang menyebutnya. Semua adalah sama di mata-Nya !
Tapi kenapa kalian menganggap saya beda ?
Hanya karna saat ini saya tak bisa mencintai laki-laki ? Hanya karna saya serumah dengan seorang wanita sebaya saya yang bergaya maskulin dengan rambut cepak selama bertahun-tahun ?Tentang siapa dia, dan darimana dia, kalian tak perlu tau ! Cukup kalian tau bahwa selama ini dia adalah orang yang selalu ada dalam hidup saya setelah Tuhan dan ibu.
Berhentilah mencibir setiap kalian melihat kami saling menggandeng seperti remaja jatuh cinta.
Berhentilah menatapi kami dengan mata melotot dan mimik muka jijik.
Kami bukan bakteri, kami bukan sampah, kami bukan racun!!
Saya dan dia hanya wanita, sama-sama wanita seperti sebagian dari kalian.
Saya ini juga makhluk Tuhan, yang terlahir dari rahim suci Ibu saya.
Saya juga makan nasi, minum air putih, berpakaian dan waras. Lantas apalagi yang membuat anggapan kalian berbeda terhadap saya dan dia?
Jangan panggil aku Bi, namaku bukan Bi ! Itu bukan nama pemberian dari Tuhan !
Panggil saya dengan nama, bukan dengan sebutan yang kalian anggap jalang.
Ini memang terlarang, menantang dosa dan agama.
Tapi apakah saya salah ?
Saya hanya mencoba memupuk cinta pada tempatnya, kepada seseorang yang benar-benar cinta dan dicintai saya.
Tuhan saja yang menciptakan saya masih memberikan perpanjangan waktu kenapa kalian justru menghakimi dan seolah olah tau akan jalan hidup saya ?
Bukankah Tuhan menciptakan cinta ke dunia agar hidup pada tempatnya dan bahagia ?
Saat ini saya bahagia, benar benar bahagia. Lalu apalagi yang salah ?
Minggu, 08 Agustus 2010
skenario
Apakah anda pernah merasa selalu gagal dan selalu salah hingga pada akhirnya anda menyerah dan memutuskan untuk mundur ?
Malam ini mungkin sudah tak terhitung lagi saya bersahabat dengan rasa pesimis. Jika anda mengatakan saya pengecut mungkin ada kata-kata yang jauh lebih buruk yang lebih pantas untuk menginterpretasikan keadaan yang sedang saya hadapi saat ini.
Ini bukan persoalan berani atau tidak menghadapi hidup, bukan masalah bagaimana cara yang benar untuk mampu bertahan. Bukan juga masalah waktunya yang memang terkadang terkesan memaksa untuk dalam keadaan terpojok. Tapi ini abstrak ! Benar-benar abstrak !
Saya tidak tahu pasti apakah saya ini sedang waras atau setengah gila, saya juga tidak tahu pasti apakah saya ini jujur atau hanya pura-pura kuat. Tapi yang saya tahu pasti, saat menulis ini saya tidak dalam pengaruh alkohol dan asap nikotin. Saya juga tidak dalam keadaan galau dan mata sembab karna menangis. Saya benar-benar sadar ! Sadar dan abstrak.
Entah harus berapa kali lagi saya bertemu dengan orang gila agar saya mampu bertemu dengan orang waras. Entah harus berapa kali lagi saya bertemu dengan orang yang salah, memaafkannya kemudian memulai lagi untuk mempercayai orang baru dan mencoba menerima kehadirannya. Entah harus dengan cara apalagi saya harus menghilangkan bekas luka trauma karna orang-orang itu. Sudah banyak waktu yang saya habiskan untuk sekedar belajar memahami. Tapi ternyata itu belum cukup mungkin Tuhan masih menginginkan yang lebih. Episode ini masih berlanjut. Entah dengan pemain yang sama atau malah dengan pemeran pengganti dengan adegan yang lebih ironi. Lagi-lagi saya tak tahu, saya ini hanya aktor. Saya hanya berusaha untuk berjalan sesuai dengan alur cerita saja. Memang tidak ada jaminan bahwa ini akan happy ending. Tapi cobalah untuk lebih mengerti dan bersabar sampai kontrak ini habis. Tidak ada batas waktu disini. Ini bukan film yang dibatasi dengan durasi.Tidak ada satupun orang yang bisa memilih perannya sendiri, ataupun beramai-ramai ikut casting untuk mendapatkan peran yang diinginkan. Ini bukan audisi dadakan untuk pembuatan sebuah film pendek untuk festival. Ini cerita hidup ! Dengan sang sutradara dan produser Sang pemilik semesta. Jaminan untuk mendapatkan cerita happy ending masih blur disini. Alurnya pun tak mampu tertebak. Mereka yang mencoba menerka hanyalah manusia sok pintar sekaligus penonton yang tidak cerdas.
Datang, pergi, hidup dan mati adalah harga mati yang tidak dapat ditawar-tawar dalam cerita yang nyata ini.
Rasa sakit adalah konsekuensi ketika kita terlalu menikmati alur cerita tanpa merencanakan penutupnya.
Malam ini mungkin sudah tak terhitung lagi saya bersahabat dengan rasa pesimis. Jika anda mengatakan saya pengecut mungkin ada kata-kata yang jauh lebih buruk yang lebih pantas untuk menginterpretasikan keadaan yang sedang saya hadapi saat ini.
Ini bukan persoalan berani atau tidak menghadapi hidup, bukan masalah bagaimana cara yang benar untuk mampu bertahan. Bukan juga masalah waktunya yang memang terkadang terkesan memaksa untuk dalam keadaan terpojok. Tapi ini abstrak ! Benar-benar abstrak !
Saya tidak tahu pasti apakah saya ini sedang waras atau setengah gila, saya juga tidak tahu pasti apakah saya ini jujur atau hanya pura-pura kuat. Tapi yang saya tahu pasti, saat menulis ini saya tidak dalam pengaruh alkohol dan asap nikotin. Saya juga tidak dalam keadaan galau dan mata sembab karna menangis. Saya benar-benar sadar ! Sadar dan abstrak.
Entah harus berapa kali lagi saya bertemu dengan orang gila agar saya mampu bertemu dengan orang waras. Entah harus berapa kali lagi saya bertemu dengan orang yang salah, memaafkannya kemudian memulai lagi untuk mempercayai orang baru dan mencoba menerima kehadirannya. Entah harus dengan cara apalagi saya harus menghilangkan bekas luka trauma karna orang-orang itu. Sudah banyak waktu yang saya habiskan untuk sekedar belajar memahami. Tapi ternyata itu belum cukup mungkin Tuhan masih menginginkan yang lebih. Episode ini masih berlanjut. Entah dengan pemain yang sama atau malah dengan pemeran pengganti dengan adegan yang lebih ironi. Lagi-lagi saya tak tahu, saya ini hanya aktor. Saya hanya berusaha untuk berjalan sesuai dengan alur cerita saja. Memang tidak ada jaminan bahwa ini akan happy ending. Tapi cobalah untuk lebih mengerti dan bersabar sampai kontrak ini habis. Tidak ada batas waktu disini. Ini bukan film yang dibatasi dengan durasi.Tidak ada satupun orang yang bisa memilih perannya sendiri, ataupun beramai-ramai ikut casting untuk mendapatkan peran yang diinginkan. Ini bukan audisi dadakan untuk pembuatan sebuah film pendek untuk festival. Ini cerita hidup ! Dengan sang sutradara dan produser Sang pemilik semesta. Jaminan untuk mendapatkan cerita happy ending masih blur disini. Alurnya pun tak mampu tertebak. Mereka yang mencoba menerka hanyalah manusia sok pintar sekaligus penonton yang tidak cerdas.
Datang, pergi, hidup dan mati adalah harga mati yang tidak dapat ditawar-tawar dalam cerita yang nyata ini.
Rasa sakit adalah konsekuensi ketika kita terlalu menikmati alur cerita tanpa merencanakan penutupnya.
Langganan:
Postingan (Atom)